Kurang Siswa, Sekolah Dimerger

Kurang Siswa, Sekolah Dimerger

Kurang Siswa, Sekolah Dimerger

Unit Pelaks­ana Teknis (UPT) Pendidikan SD Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat

memutuskan untuk melaku­kan penggabungan sekolah (merger) yang menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan siswa. Hal ini, di antaranya telah dilakukan untuk SD Inpres Lembang yang dimerger dengan SDN 1 Lembang.

“Alasannya memang keku­rangan siswa sementara se­kolah berdiri banyak. Merger dua sekolah ini sekarang se­dang menunggu SK bupati. Hal ini diambil karena salah satu sekolah, yakni SD Inpres Lembang kekurangan siswa,” kata Kepala UPT Pendidikan SD Lembang, Iing Hartawan, Kamis (6/12).

Iing menyebutkan, jumlah siswa SD Inpres hanya 45 orang yang terbagi ke dalam 6 rom­bongan belajar.

Hal ini tentu tidak efektif lantaran seorang guru setidaknya harus me­nangani 20 siswa dalam satu kelas/rombel.

Saat ini, SD Inpres dan SDN 1 Lembang berada dalam satu areal dengan SDN 7 Lembang. Namun untuk SDN 7 Lembang, tidak dimerger karena jumlah siswa mencukupi.

“Jadi, hanya SD Inpres dan SDN 1 Lembang yang dimer­ger menjadi SDN 1 Lembang. Namun, bangunan SD Inpres tetap digunakan,” katanya.

Dia juga mengungkapkan, sekolah lainnya yang keku­rangan siswa yaitu SDN 5 Cikidang.

Saat ini, jumlah siswanya sekitar 100 orang yang terbagi ke dalam 6 rom­bel. Jika menghitung rasio guru dan murid, tentu seko­lah tersebut termasuk keku­rangan siswa.

Meski demikian, sekolah tersebut tidak akan dimer­ger lantaran masih bisa memfasilitasi kebutuhan warga sekitar. Jika dimerger dengan sekolah lain, loka­sinya akan lebih jauh, se­hingga dinilai akan menim­bulkan masalah baru.

“Khusus SDN 5 Cikidang, masih akan dipertahankan. Apalagi, bangunan sekolah­nya juga masih bagus dan layak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pendidik dan Tenaga Kepen­didikan pada Dinas Pendidi­kan KBB Hasanudin menga­kui, beberapa sekolah minim siswa. Solusi alternatifnya, yaitu dengan melakukan peng­gabungan (merger) ataupun pembubaran jika diperlukan.

Menurut dia, penggabung­an sekolah dilakukan ketika hal itu tidak menimbulkan masalah baru, seperti akses siswa yang lebih jauh ke se­kolah. Namun, jika tidak memungkinkan, sekolah ter­sebut akan tetap dipertahan­kan meskipun dengan jumlah siswa yang minim, yakni ku­rang dari dua puluh siswa per rombongan belajar.

Dia mengakui, minimnya jumlah siswa akan berdampak juga terhadap pencairan tun­jangan profesi guru. Sebab salah satu syaratnya, guru harus mengajar pada rom­bongan belajar yang terdiri atas minimal dua puluh siswa.

 

Baca Juga :