Dibayangi Kasus Kekerasan Anak

Dibayangi Kasus Kekerasan Anak

Dibayangi Kasus Kekerasan Anak

 Sejak awal tahun 2018 hingga momentum Hari Anak Nasional  yang jatuh pada 23 Juli  kemarin,

sedikitnya lima kasus kekerasan anak ditangani Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi.

Hal itu ditegaskan Ketua KPAD Kota Bekasi, Aris Setiawan, saat ditemui pada acara peringatan Hari Anak Nasional 2018 di daerah Jatiasih, Kota Bekasi kemarin.

”Pada tahun 2018 ini kekerasan terhadap anak yang pernah kita tangani langsung ada di sekitar tiga sampai lima kasus. Termasuk kasus yang persekusi kemarin itu. Tapi kalau pendampingan, kadang pihak kepolisian minta kita mendampingi itu kasusnya banyak,” ungkapnya.

KPAD Kota Bekasi juga tengah menyelesaikan kasus anak yang dipekerjakan di Papua

. Pihaknya telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait diantaranya KPAD, BPPP dan Polda Papua.

Rencananya minggu pertama Agustus anak tersebut sudah bisa untuk dipulangkan ke Kota Bekasi

Aris menuturkan kasus ini terkuak sejak orang tua korban dan masyarakat sekitar mengadukan kejadian tersebut kepihaknya.

“Kita sudah berkoordinasi dengan pihak KPAD, BPPP dan Kapolda Papua. Yang dari Bekasi satu. Laporan masyarakat, kemudian orangtuanya mengadukan ke kami dan orang-orang sekitar lalu kita koordinasikan Insya Allah kalau tidak tanggal tujuh tanggal sembilan lah (Dipulangkan), “ ungkap pria yang akrab disapa Aris ini.

Ketika ditanya terkait fenomena anak-anak Kota Bekasi dewasa ini, Aris mengungkapkan bahwa anak-anak di Kota Bekasi berada dalam dua dimensi kehidupan yakni dimensi perkembangan teknologi dan dimensi imbas dari perkembangan teknologi.

Aris mengakui bahwa anak-anak di Kota Bekasi saat ini lebih dominan berada dalam

dimensi dampak perkembangan teknologi dibandingkan pada dimensi perkembangan teknologi tersebut. Namun pihaknya belum bisa menyebut fenomena tersebut negatif atau positif.

“Secara jujur kita sebut mereka lebih banyak ada di dimensi dampak dari teknologi informasi itu. Kalau dalam posisi ini kita belum bisa sebut positif atau negatif. Ketika dia menyalahgunakan hal-hal itu menjadi sebuah hal yang negatif itu baru kita sebut imbas dan itu sisi yang negatif, “ imbuhnya.

 

Sumber :

https://ruangseni.com/