Cara Apple, Samsung dan Sony Bertahan dari Gempuran Vendor China

Cara Apple, Samsung dan Sony Bertahan dari Gempuran Vendor China

Cara Apple, Samsung dan Sony Bertahan dari Gempuran Vendor China

Kebangkitan vendor-vendor China dalam lima tahun terakhir,

rupanya menjadi mimpi buruk bagi pemain-pemain raksasa, seperti Apple, Samsung dan Sony.

Perubahan selera konsumen, yang juga dipicu oleh sentimen nasionalisme, membuat merek-merek yang sebelumnya mendominasi pasar, khususnya di China, kini terus tertekan akibat menurunnya penjualan.

Sejauh ini dibandingkan Samsung dan Sony, penjualan iPhone masih terbilang cukup baik. Meski demikian, pangsa pasar Apple di China dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan.

Peluncuran generasi baru iPhone 1 pada Oktober lalu, memang cukup menarik minat konsumen, namun tidak membuat posisi Apple lebih baik.

Laporan Bloomberg mengutip catatan penelitian Credit Suisse, menunjukkan bahwa Apple,

menderita penurunan dua digit berturut-turut dalam dua bulan berturut-turut dalam pengiriman iPhone di negeri Tirai Bambu.

Pengiriman turun 35,1 persen tahun ke tahun di bulan November, seorang analis Credit Suisse mengatakan merujuk data dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.

Tak dapat dipungkiri, vendor yang berbasis di Cupertino, California itu, tengah mengalami tahun yang sulit di Tiongkok.

Angka-angka Canalys yang dirilis pada Oktober lalu, menunjukkan pangsa pasarnya turun menjadi 5,2 persen, dibandingkan Q3 2018 yang masih sebesar 7 persen pada Q3 2018. Dalam periode itu, pengiriman Apple turun 28 persen menjadi hanya 7,1 juta unit.

Meski tengah menghadapi laju penurunan, dorongan dari iPhone 11 memastikan Apple tetap

dalam daftar lima vendor teratas berdasarkan pengiriman di negara tersebut.

Rushabh Doshi, Direktur Riset Mobilitas Global pada firma riset Canalys, mengatakan bahwa Apple sedang berjuang di China. Sejumlah faktor berada dibalik penurunan tersebut, terutama karena jeda inovasi dan reaksi dari konsumen yang beralih ke merek lokal dalam menanggapi perang dagang dengan AS.

Tak dapat dipungkiri, perseteruan antara China dan AS yang merebak dalam tiga tahun terakhir, membuat perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu, berada dalam posisi tidak menguntungkan.

Aksi pembatasan terhadap Huawei semakin menambah pelik persoalan dan mendorong tumbuhnya gerakan “Boikot Apple” di China.

 

Baca Juga :